Showing posts with label SAINS. Show all posts
Showing posts with label SAINS. Show all posts

Alquran dan Sains: Korelasi antara Kehidupan dan Kematian

Kehidupan dan kematian bagi semua makhluk hidup merupakan starting point dan garis finish bagi keberadaannya di dunia ini. Meskipun mayoritas orang berpendapat tidak ada korelasi yang signifikan antara kehidupan dan kematian, namun bukti ilmiah menegaskan adanya korelasi ini.

Hidup atau kehidupan ini, mengandung arti adanya suatu ‘energi’ yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan suatu aktifitas tertentu, melalui berbagai proses interaktif yang dinamis. Karenanya, kehidupan itu sendiri merupakan makhluk hidup yang berdiri sendiri. Memiliki sifat, ciri dan fungsi yang telah ditentukan waktu permulaan dan akhirnya.

Sebagaimana kehidupan ini juga merupakan rangkaian dari dinamika perubahan yang akan berakhir dengan terhentinya aktifitas kehidupan, karena adanya ‘energi’ lawan yang memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan kekuatan ‘kehidupannya'. Energi yang kami maksud adalah ‘kematian’. Karenanya, kematian sebenarnya tidak eksis karena atau untuk dirinya sendiri (lidzaatihi) tanpa memiliki fungsi lain. Dan berdasarkan hal itu, penelitian ilmiah yang dilakukan para ilmuwan, telah diarahkan untuk meneliti sebab-sebab terhentinya fungsi sebagian sel-sel yang terdapat dalam tubuh. Atau dengan kata lain, meneliti kematian sel-sel tersebut.

Bagi kami, kenyataan ini, memberikan gambaran sebenarnya, bahwa ‘kematian’ sesungguhnya merupakan makhluk hidup yang nyata-nyata ada. Dan dia ada karena ada sebab-sebab yang mengakibatkannya ada. Sebagaimana ‘hidup atau kehidupan’ merupakan makhluk hidup yang ada karena sebab yang mengakibatkannya ada.

Maksud dari apa yang kami katakan: ‘kematian dan kehidupan ada karena adanya sebab yang mengakibatkannya ada’ adalah pernyataan bahwa ‘sebab’ yang mengakibatkan sesuatu ada terdapat dalam genggaman kekuasaan Yang Maha Pencipta, yaitu Allah. Yang memiliki kehendak bebas untuk menciptakan, atau tidak menciptakan sebab itu, atau untuk menambahkan satu sebab ke dalam sebab yang lain.

Dan sekiranya, penelitian fisiologi atas sel-sel membuktikan bahwa kehidupan dan kematian merupakan makhluk hidup yang nyata-nyata ada. Maka tentu adanya masing-masing kehidupan dan kematian ini, menunjukkan bahwa keduanya merupakan makhluk yang diciptakan. Dan kalau kita perhatikan ayat Alquran, maka kita akan mendapatkannya telah mendahului penelitian di atas selama kurang lebih 14 abad lamanya. Allah SWT dalam surah Al-Mulk ayat 2 berfirman: "Yang menjadikan maut dan hidup."

Penggabungan kata ‘maut’ dan ‘hidup’ menunjukkan bahwa keduanya merupakan dua makhluk yang saling terkait. Karena kematian akan ada, jika ada kehidupan. Sebagaimana kematian juga merupakan unsur penting bagi kelangsungan ‘kehidupan’. Sel-sel tubuh manusia yang mati akan larut menjadi unsur-unsur pembentuk sel dan kembali ke bumi (tanah), untuk diserap kembali melalui tumbuh-tumbuhan yang dimakannya. Sebagaimana unsur-unsur ini juga diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan demi kelangsungan kehidupannya.

Kalau kita perhatikan kehidupan di alam semesta ini, kita juga akan mendapatkan bagaimana makhluk hidup yang mati dan menjadi bangkai, dijadikan makanan bagi makhluk hidup lainnya, yang dalam ilmu biologi disebut sebagai ‘makhluk pemakan bangkai’. Sekiranya tidak ada makhluk hidup yang mati, maka makhluk pemakan bangkai ini akan musnah dan ekosistem yang mengatur kehidupan pun akan ikut rusak dan terganggu.

Makhluk pemakan bangkai ini, tidak hanya terdapat di dunia luar, tetapi terdapat juga di dalam tubuh berupa sel yang mendapatkan makanannya dari zat-zat yang rusak atau mati yang ada dalam jaringan sel. Contohnya adalah ‘sel darah pencerna’ (kholayaa dam al-ibtilaa-iyyah) yang termasuk jenis amuba (atau binatang bersel satu) yang memakan zat-zat yang sudah rusak dan mati yang terdapat pada sel atau jaringan sel. Seandainya tidak terdapat zat-zat yang rusak ini, tentunya ‘sel darah pencerna’ itu akan mati. Karenanya ‘kematian’ bagi ‘sel darah pencerna’ merupakan sesuatu yang seharusnya terjadi, demi kelangsungan hidupnya.

Demikianlah, kita dapat menemukan ‘kehidupan’ yang lahir dari puing-puing ‘kematian’. Maksud kami, lahirnya beberapa makhluk hidup yang berasal dari dalam benda mati. Sebagai contoh adalah keluarnya janin binatang yang bertelur dari kulit telur yang keras dan mati. Atau keluarnya cabang akar dan bulu ketika biji-bijian mulai tumbuh menembus kulit biji yang mati dan keras.

Keluarnya makhluk hidup dari benda mati ini, tidak berarti bahwa ia diciptakan dari benda mati. Akan tetapi maksudnya adalah, kemampuan makhluk hidup tersebut untuk melanjutkan pertumbuhannya meskipun ia dikelilingi benda mati yang keras yang dapat mencegah pertumbuhannya. Yaitu, melalui proses ‘usaha’, dengan mengeluarkan berbagai enzym yang dapat melarutkan dinding-dinding keras dari benda mati yang menghalanginya.

Sebaliknya, benda-benda mati pun bisa keluar dan dihasilkan dari makhluk hidup. Contohnya adalah getah yang dikeluarkan oleh sebagian tumbuh-tumbuhan melalui pori-pori daunnya atau batangnya. Atau sisa-sisa pencernaan makanan dari makhluk hidup yang berupa kotoran-kotoran, baik kotoran manusia ataupun kotoran binatang.

Karena itu, kita bisa mengatakan bahwa proses keluarnya makhluk hidup dari benda mati atau proses keluarnya benda mati dari makhluk hidup, bukan sekedar fenomena biasa, tapi di balik itu menggambarkan peredaran kehidupan yang menakjubkan. Cairan sebagai benda mati, merupakan unsur terpenting bagi pembentukan dan perkembangan berbagai makhluk hidup.

Dan dari aktifitas makhluk hidup itu keluar cairan yang merupakan benda mati. Cara pengungkapan yang paling detail bagi peredaran kehidupan ini adalah kata ‘keluar’ (khuruuj) yang mempunyai arti bahwa pembentukan benda yang keluar (al-Khaarij) terkait dan tergantung kepada unsur dari mana ia keluar, meskipun tidak secara keseluruhan dan terbatas pada sebab yang mengeluarkannya saja.

Dan itu berbeda dengan ‘penciptaan’ atau al-khalq, yang mengandung arti mengadakan dari sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Hal ini, sebagaimana yang kita dapatkan dalam Alquran, surah Ar-Ruum ayat 19. Allah SWT berfirman: "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup."

Selanjutnya perlu kami jelaskan tentang perbedaan antara tiga hal berikut ini, yaitu: 1. Hakikat kehidupan (Maahiyatul hayaat) yang mengandung arti kehidupan sebagai hasil penciptaan. 2. Sebab kehidupan (Asbaabul hayaat), yang mengandung arti proses-proses yang mengakibatkan adanya penciptaan. 3. Rahasia kehidupan (Sirrul hayaat), yang mengandung arti Sesuatu yang memberi kehidupan pada penciptaan. Yaitu ruh.

Jika kita memiliki kemampuan untuk mengetahui hakikat penciptaan kehidupan dan sebab-sebabnya, maka akal kita tidak akan mampu untuk mengetahui hakikat rahasia kehidupan ‘ruh’, yang memberikan ‘sifat hidup’ bagi segala sesuatu. Bahkan kita tidak akan mampu untuk memahami bagaimana kehidupan ini terwujud dengan adanya ‘ruh’ dan berakhir dengan keluarnya ‘ruh’. Sebagai bukti, kita tidak mempunyai kemampuan untuk memahami cara perubahan benda mati, seperti tongkat yang dimiliki Nabi Musa yang berubah menjadi benda hidup dalam bentuk ular yang merayap.

Tentang hal ini, Alquran secara global memberikan petunjuknya dalam surah Al-Israa ayat 85. Allah SWT berfirman: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit."
@ REpublika.co.id



Redaktur: cr01
Sumber: Ensiklopedi Petunjuk Sains dalam Alquran dan Sunnah

Batubara Ramah Lingkungan

Di tengah kebuntuan memenuhi permintaan energi yang makin meningkat, teknologi Geo Coal muncul. Teknologi tersebut mampu mengubah batubara peringkat rendah (low rank coal) yang kini kurang dimanfaatkan menjadi sumber energi yang murah, efisien, sekaligus lebih ramah lingkungan.

Teknologi Geo Coal ini dikembangkan oleh Ir Harsudi Supandi, peneliti energi sekaligus Presiden Direktur Total Synergy International (TSI). Peluncuran teknologi yang kini telah memasuki proses paten tersebut dilakukan hari ini, Rabu (20/4/2011), di Grand Hyatt Hotel, Jakarta.

Harsudi mengungkapkan, ada dua jenis batubara. Jenis pertama adalah batubara peringkat tinggi (high rank coal) yang punya kandungan air rendah, konten energi tinggi, kalori tinggi dan lebih efisien dalam pembakaran. "Jenis batubara inilah yang sekarang dimanfaatkan," kata Harsudi.

Jenis kedua adalah batubara peringkat rendah. Batubara jenis ini memiliki kadar air tinggi atau hampir 80 persen, konten energi dan kalori yang rendah dan kurang efisien. Jenis low rank coal biasanya lunak, mudah pecah atau rekah, mudah menjadi bubuk dan mudah habis terbakar tak terkendali.

Sepintas, mengolah batubara peringkat rendah seperti tak berprospek. Namun, bila ditilik lagi, batubara peringkat rendah ternyata punya kelebihan. Jumlah batubara peringkat rendah masih melimpah dan memiliki kandungan sulfur dan abu yang rendah.

"Kalau itu bisa dimanfaatkan, nilai gunanya bisa tinggi," cetus Harsudi. Menurut Harsudi, kini berbagai negara berlomba untuk meng-upgrade batubara tingkat rendah sehingga bisa dimanfaatkan, terutama karena menipisnya cadangan minyak dan kekhawatiran akan energi nuklir.

Teknologi Geo Coal yang dikembangkan Harsudi pada dasarnya merupakan proses meningkatkan kalori batubara peringkat rendah. Proses peningkatan tersebut dilakukan melalui beberapa tahap, meliputi persiapan, penghancuran batubara, pengeringan, setting, dan berakhir dengan pendinginan.

Dalam proses penghancuran, batubara diubah menjadi ukuran lebih kecil, antara 5-50 cm. Sementara, pada proses pengeringan, kadar air dalam batubara peringat rendah dikurangi dengan menggunakan gassification burner. Setelah proses ini, dikatakan kadar air bisa berkurang 60-80 persen.

"Proses selanjutnya, yaitu setting, adalah inti dari proses upgrading ini," kata Harsudi. Dalam proses ini, dilakukan modifikasi gabungan dari Hardgrove Grindability Index (HGI), konten materi yang mudah terbakar dan debu atau ash dari batubara.

Harsudi mengatakan, teknologi Geo Coal mampu meningkatkan kalori batubara hingga 50-100 persen. Selain itu, proses upgrading yang dilakukan juga bisa mempertahankan kadar sulfur dan ash tetap rendah sehingga batubara yang dihasilkan nantinya lebih ramah lingkungan.

Teknologi Geo Coal yang dikembangkan berbeda dengan proses upgrading lain, seperti UBC (Upgrade Brown Coal). Harsudi mengatakan, "Kalau UBC itu kan intinya pada pengeringan dan briket. Sementara kalau Geo Coal ini intinya pada pengeringan dan setting."

Dengan Geo Coal, upgrading batubara lebih efisien. "Ongkosnya itu hanya 10 juta dollar per ton produk. Rational cost-nya 4-5 dollar per ton produk dalam skala besar. Bisa dibandingkan sendiri kalau UBC berapa," jelas Harsudi yang sebelumnya juga menciptakan teknologi gassification burner.

Geo coal memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan teknologi lain. "Produknya lebih ramah lingkungan. Batubara peringkat tinggi itu kandungan sulfurnya sampai 12 persen, sementara peringkat rendah itu kurang jadi 1 persen. Jadi ini low polluting," ungkapnya.

Teknologi tersebut juga tak terbatas pada upgrading batubara, tetapi juga untuk biomass, bambu, kayu dan bahkan sampah. Dengan pengurangan kadar air, biaya transportasi yang dibutuhkan juga lebih rendah. Dan paling penting, teknologi ini jauh lebih murah.

Saat ini, TSI sudah menandatangani kerjasama dengan PLN untuk menggunakan Geo Coal di salah satu pembangkit tenaga listriknya di Banten. TSI juga bersepakat dengan Agritrade Resources Limited untuk membangun pabrik komersil Geo Coal berkapasitas 500.000 metrik ton per tahun di lokasi Tamiang Layang, Kalimantan Tengah Juni 2011.

Harsudi mengatakan, pengembangan Geo Coal merupakan solusi ketika energi minyak menipis dan energi terbarukan belum bisa diandalkan. Teknologi tersebut juga mendukung pengadaan sumber energi murah sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi di negara berkembang.

Celana Dalam Antipeluru

Tahukah Anda, kini sudah ada celana dalam antipeluru untuk para tentara yang bertugas di medan perang. Memang belum banyak negara yang telah menggunakannya. Salah satu pengguna pakaian dalam antipeluru antara lain pasukan tentara Inggris.

Pasukan marinir Amerika Serikat baru saja berencana menggunakannya dan telah memesan 27.500 celana dalam antipeluru. Terbuat dari bahan yang kuat, fungsi celana dalam tersebut sebenarnya lebih untuk melindungi daerah selangkangan dari ledakan seperti ranjau.

Pakaian dalam militer standar saat ini tidak melindungi daerah selangkangan. Padahal, daerah ini memiliki banyak pembuluh darah. Cedera pada bagian itu dapat mengakibatkan kehilangan darah yang sangat cepat dan mengakibatkan kematian. Selain itu, masih ada kemungkinan tumbuhnya infeksi.

"Berkurangnya jumlah prajurit akibat cedera ini punya dampak yang besar pada keefektifan kemampuan bertarung serta kemampuan untuk mempertahankan operasi," kata angkatan laut AS dalam surat permohonan. "Berdasarkan analisis itu, pakaian dalam balistik akan mempercepat pemulihan dan mengurangi infeksi sekunder."

Pada dasarnya, pakaian ini tidak menghentikan peluru yang ditembakkan langsung, tetapi mengurangi luka dengan memblok partikel-partikel kecil yang menyebabkan luka tambahan dalam ledakan. Pakaian dalam balistik tersebut terbuat dari sutra yang memiliki antimikroba sehingga dapat membuat luka lebih cepat sembuh dan mencegah infeksi lebih lanjut. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu) @kompas.com

Fenomena Ulat Bulu : Ada Perubahan Ekosistem secara Global

Peningkatan populasi ulat bulu yang sangat tinggi belakangan ini diduga turut disebabkan perubahan ekosistem secara global. Salah satu indikasinya, peningkatan tersebut merata di sejumlah daerah di Indonesia.

Hal ini dikemukakan oleh Prof Dr Deciyanto Soetopo, Peneliti Utama Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbang Kementan), di lokasi habitat ular bulu, Tanjung Duren, Jakarta Barat, Rabu (13/4/2011).

"Secara global, ada gejala yang sama. Dari lingkungan biotik maupun abiotik, faktor penghambat atau penekan perkembangan ulat bulu semakin berkurang. Faktor biotik, misalnya, predator ulat bulu semakin langka. Sementara faktor abiotiknya, curah hujan yang tinggi sepanjang tahun lalu justru mengakibatkan predatornya berkurang," papar Deciyanto.
@ kompas.com
Ia mencontohkan, di lokasi habitat ulat bulu di Tanjung Duren, Jakarta Barat, hampir tidak ditemukan spesies pemangsa ulat bulu, seperti burung, sejenis serangga seperti capung, dan semut. Parasitoid atau mikroorganisme parasit yang hidup di telur ataupun di tubuh ulat bulu pun belum terlihat.

Tanda-tanda tersebut menunjukkan adanya gangguan ekosistem, yakni hilangnya keseimbangan alami dalam lingkungan hidup.

Perubahan iklim juga dipandang sebagai salah satu pemicu pertumbuhan drastis ulat bulu. Curah hujan yang terlampau tinggi, misalnya, tidak terlalu berpengaruh terhadap ulat bulu, tetapi hal itu justru menjadi faktor penghambat perkembangan spesies pemangsanya.

Dengan adanya indikasi yang sama di berbagai daerah yang dilanda peningkatan populasi ulat bulu, Deciyanto menyimpulkan telah terjadi perubahan ekosistem secara global. "Gejala-gejala ini kan terlihat di mana-mana, termasuk di sini. Faktor penghambat populasi ulat bulu sudah semakin langka. Kita bisa berasumsi ada perubahan ekosistem secara global, baik lingkungan biotik (bernyawa) maupun abiotik (tak bernyawa)," jelas Deciyanto.

Menurutnya, cara terbaik untuk mengatasi peningkatan populasi ulat bulu adalah melalui pengendalian alami, yakni tersedianya jumlah pemangsa dalam jumlah yang seimbang. "Tapi, kalau meningkat drastis seperti saat ini, ya kita pakai cara darurat, yaitu penyemprotan insektisida, seperti pestisida," tukasnya.

Meski demikian, Deciyanto mengingatkan, penggunaan insektisida pun harus diperhitungkan kadarnya. Jika tidak, predator dan parasitoid ulat bulu bisa ikut musnah. Hal ini berbahaya karena kecepatan pertumbuhan ulat bulu jauh lebih tinggi dari spesies predatornya.

Lakukan Seks di Luar Angkasa Berbahaya

Sejak lama penelitian soal reproduksi di luar angkasa menjadi salah satu bahasan hangat, terutama ketika program penjelajahan luar angkasa mulai digalakkan. Membangun koloni manusia di planet lain mungkin kini masih menjadi mimpi.

Pasalnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa melakukan hubungan seks di luar angkasa masih berisiko tinggi jika ditujukan untuk menghasilkan keturunan. Berdasarkan studi, keturunan yang dihasilkan mungkin akan memiliki kelainan.

Sebuah studi yang diterbitkan pada Journal of Cosmology meneliti perkembangan embrio ikan zebra dalam kondisi yang mirip dengan kondisi luar angkasa. Penelitian dilakukan dengan menempatkan embrio dalam bioreaktor yang dibuat untuk menirukan kondisi gravitasi di luar angkasa. Para ilmuwan kemudian mencatat perkembangan embrio.

Setelah telur menetas, ilmuwan mendapati bagian tulang yang menyangga insang berubah bentuk pada beberapa ikan. Beberapa bulan kemudian, jumlah ikan yang mengalami kelainan bertambah. Ilmuwan mendapati kebengkokan pada tulang yang menjadi dasar tengkorak.

Penelitian yang dilakukan sebelumnya juga menemukan hal serupa. Hanya, penggunaan bireaktor dikritik karena dianggap tidak dapat meniru kondisi luar angkasa secara sempurna.

Artikel studi dalam Journal of Cosmology ini menyentuh topik yang dianggap tabu dan belum pernah dibahas NASA sebelumnya: seks di luar angkasa. Topik ini mengemuka setelah muncul rencana untuk menjalankan misi mengirim manusia ke Mars.

Rekayasa Genetika: Ayam Antiflu Burung Dikembangkan

Ilmuwan dari Universitas Cambridge dan Edinburg berhasil "menciptakan" ayam jenis baru. Ayam tersebut bisa terinfeksi flu burung, tetapi tidak bisa menyebarkannya ke ayam lain ataupun manusia.

Lawrence Tiley, ilmuwan dari Departemen Kedokteran Hewan Universitas Cambridge, yang terlibat dalam eksperimen itu mengatakan, ayam tersebut dibuat lewat proses modifikasi genetik.

Dalam proses itu, gen baru yang bisa memproduksi senyawa imitasi dari senyawa yang diproduksi virus flu burung disisipkan. Senyawa tersebut bisa menghambat proses replikasi sehingga mencegah penyebaran.

Eksperimen yang dilakukan oleh ilmuwan membuktikan, ayam yang telah dimodifikasi gennya terbukti mencegah penyebaran virus. Mereka tak mampu menyebarkan virus ke burung lain, baik yang dimodifikasi gennya maupun tidak.

Meski demikian, Tiley mengatakan bahwa eksperimen ini masih dalam tahap awal. Selain itu, ia juga memperingatkan bahwa seluruh ayam yang dimodifikasi gennya tidak dibuat untuk dikonsumsi.

"Pengembangan ini adalah langkah awal untuk mengembangkan ayam yang benar-benar resisten terhadap virus flu burung. Ayam ini juga dibuat hanya untuk tujuan riset, bukan konsumsi," kata Tiley, Kamis (13/1/2011).

Kasus flu burung mulai dijumpai pada tahun 1997 di Hongkong. Sementara, pada tahun 2003, kasus tersebar luas ke Asia, Timur Tengah, dan beberapa wilayah Eropa, mengakibatkan kematian pada burung dan manusia.

Tiley mengungkapkan, "Ayam adalah inang potensial tempat virus strain baru berkembang dan menginfeksi burung dan manusia. Mencegah penyebaran virus pada ayam bisa mengurangi dampak ekonomi dan risiko orang terinfeksi dari burung."

Arkeolog Israel Klaim Temukan Sisa Homo Sapiens, Teori Evolusi Bisa Berubah

Bukti paling awal keberadaan manusia modern, atau yang disebut homo sapiens, telah ditemukan di Israel. Demikian diungkapkan para arkeolog Israel, Senin (27/12). Jika benar, maka penemuan ini akan membalikkan teori asal muasal manusia selama ini.

Sebuah tim dari Universitas Tel Aviv, Israel, yang melakukan penggalian di sebuah gua prasejarah di Israel Tengah mengklaim telah menemukan gigi berumur 400 ribu tahun. Gigi tersebut memiliki kemiripan dengan sisa-sisa peninggalan homo sapiens. Hingga kini, peninggalan paling awal dari homo sapiens hanya berusia 200 ribu tahun.

Ketua tim, Avi Gopher, mengatakan penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memperkuat klaim tersebut. Guna menentukan umur gigi temuan itu, timnya melakukan pemeriksaan sinar-X dan CT Scan, serta memperhitungkan usia lapisan bumi dimana gigi tersebut ditemukan. ‘’Jika klaim ini benar, akan mengubah seluruh gambaran evolusi.’’

Teori yang diterima selama ini adalah homo sapiens berasal dari Afrika dan bermigrasi ke benua lain.

Gopher mengatakan gigi temuan tersebut jelas memiliki hubungan dengan nenek moyang manusia modern. ‘’Bisa berarti bahwa manusia modern berasal dari tempat yang sekarang menjadi wilayah Israel.’’

Ahli prasejarah Universitas Cambridge, Sir Paul Mellars, mengatakan masih prematur untuk mengklaim gigi temuan tersebut merupakan peninggalan dari manusia. ‘’Berdasarkan bukti yang mereka sebutkan, masih lemah untuk mengklaim demikian,’’ katanya. Ia mengatakan temuan tersebut lebih mirip peninggalan Neanderthal, manusia primitif yang merupakan pendahulu homo sapiens

Menurut teori, manusia modern (homo sapiens) dan Neanderthal berasal dari nenek moyang yang sama yang hidup di Afrika 700 ribu tahun silam. Sekelompok turunannya bermigrasi ke Eropa dan berkembang menjadi Neanderthal, yang kemudian punah. Sekelompok sisanya bertahan di Afrika dan berevolusi menjadi homo sapiens atau manusia modern.

Gigi bukan merupakan indikator kuat untuk menentukan wujud asal muasal. Mellars mengatakan temuan sisa-sisa tengkorak akan lebih akurat untuk dijadikan indikator.

Gopher mengatakan dirinya yakin timnya akan menemukan tengkorak dan tulang belulang seiring dengan penggalian yang terus dilakukan.

Manusia Purba Itu Kawini Manusia Modern

Dalam publikasinya di Jurnal Nature, Selasa (21/12/2010), tim peneliti dari Max Planck Institut for Evolutionary Anthropology (MPI EVA) yang dipimpin Svante Paabo menyimpulkan bahwa fosil manusia purba yang ditemukan di Siberia adalah spesies baru. Mereka memastikan perbedaan dengan manusia purba lainnya setelah berhasil menganalisis 70 persen dari DNA inti fosil tulang dan jari yang ditemukan di Gua Denisova.

Tak hanya mengungkap fakta bahwa manusia kini memiliki "saudara" baru, peneliti juga mengungkapkan fakta mengejutkan lainnya. Denisovans, si manusia purba jenis baru itu, ternyata pernah melanglang buana hingga Asia dan melakukan aktivitas perkawinan dengan manusia modern di wilayah Melanesia yang selama ini menyebar di Papua Niugini dan sekitar wilayah Pasifik lainnya.

Hal itu diketahui setelah peneliti membandingkan DNA Denisovans dengan manusia modern. Peneliti mengatakan, sebanyak 4-6 persen DNA orang Melanesia memiliki kesamaan dengan DNA Denisovans. "Kami kira ini adalah kesalahan pada awalnya, tapi ternyata ini nyata," kata David Reich dari Harvard University yang terlibat penelitian ini.

Dengan hasil penelitian ini, orang-orang Melanesia dikatakan memiliki materi genetik kuno yang berasal dari dua manusia purba, Neanderthals dan Denisovans. Sebelumnya, telah ada penelitian yang mengungkapkan bahwa semua manusia non-Afrika memiliki DNA dari Neanderthals, konsekuensi dari menyebarnya populasi Neanderthals di masa lalu.

Skenario para ilmuwan mengatakan, Neanderthals dan Denisovans berasal dari satu moyang di Afrika. Setelah terpisah tetapi sebelum menyebar ke Asia dan Eropa, Neanderthals berinteraksi dan kawin dengan manusia modern. Alhasil, seluruh manusia modern non-Afrika memiliki materi genetik dari Neanderthals.

Sementara itu, Denisovans menyebar ke timur setelah terpisah menjadi spesies sendiri. Mereka bertemu dengan kelompok manusia modern yang bergerak ke arah Melanesia lebih kurang 45.000 tahun yang lalu. Akhirnya, kedua jenis manusia itu pun berinteraksi dan kawin, menghasilkan perpaduan materi genetik keduanya yang kini terdeteksi dalam penelitian ini.

Meski demikian, para peneliti tidak menyatakan bahwa Denisovans menyebar sampai Melanesia. "Yang kami katakan adalah, Denisovans kawin dengan moyang Melanesia. Kemudian, populasi moyang Melanesia yang sudah kawin dengan Denisovans itu bergerak ke arah Melanesia dan Papua Niugini," kata Bence Viola, salah satu antropolog dari MPI EVA.

Menurut pendapat Reich, interaksi antara Denisovans dan manusia modern mungkin lebih dari yang diperkirakan. "Mereka pasti tersebar luas di Asia," kata Reich. Penelitian genetika populasi pada orang-orang di Asia Minor, menurut Reich, bisa memberi petunjuk mengenai persebaran dan interaksi Denisovans.

Rick Potts, ilmuwan dari Smithsonian Institution yang tak terlibat penelitian, mengatakan, hasil penelitian bisa saja tidak merujuk pada perpaduan genetik Denisovans dan manusia modern. Menurutnya, bisa saja materi genetik yang ada pada orang Melanesia adalah materi genetik kuno yang dipertahankan dan sudah hilang di populasi manusia lain.

Namun, Potts tidak memiliki penjelasan lain dari fenomena tersebut. Ia hanya mengatakan, "Saya sangat terkesan dengan publikasi ini. Artikel itu bisa mengajak kita menerawang jauh dan merenungkan. Dan, ini adalah hasil ilmu pengetahuan yang baik."

Denisovans : Manusia Purba Spesies Baru dari Siberia

Bulan Maret yang lalu, dunia dikejutkan dengan hasil analisis DNA mitokondria dari fosil tulang dan gigi yang ditemukan di Gua Denisova, wilayah Siberia. Hasil analisis mengungkap bahwa materi genetik yang terkandung dalam fosil tulang dan gigi itu berbeda dengan materi genetik pada manusia modern dan manusia purba Neanderthals.

Para ilmuwan dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology (MPI EVA) di Leipzig, Jerman, yang terlibat dalam penelitian itu pun menduga bahwa fosil itu berasal dari manusia purba jenis baru. Namun, kala itu mereka diingatkan oleh ilmuwan lain agar tak mengambil kesimpulan terlalu cepat mengenai kebaruan spesies manusia tersebut.

Berusaha untuk meyakinkan, para ilmuwan dari MPI EVA pun melakukan penelitian lebih lanjut. Memakai sampel yang sama, mereka mengekstrak DNA inti, menganalisis untaiannya, dan membandingkan dengan DNA Neanderthals dan manusia modern. Hasil analisis tersebut dipublikasikan di Jurnal Nature, Rabu (22/12/2010).

Berdasarkan hasil analisis, fosil yang berasal dari Siberia itu terbukti sebagai manusia jenis baru. Para ilmuwan menamakannya "Denisovans", sama seperti nama gua tempat fosil ditemukan. Dikatakan, manusia purba jenis baru tersebut memiliki relasi lebih dekat dengan Neanderthals daripada dengan manusia modern.

Richard Green dari Universitas California, Santa Cruz, yang memimpin analisis DNA mengatakan, "Cerita evolusi manusia kini menjadi lebih rumit. Alih-alih mengetahui dengan jelas bagaimana manusia keluar dari Afrika, kita malah melihat pemain baru dalam cerita itu serta interaksi yang tak kita ketahui sebelumnya."

Green mengatakan, Neanderthals dan Denisovans memiliki moyang yang sama. Diperkirakan, 300.000-400.000 tahun yang lalu, sekelompok manusia purba bergerak ke luar Afrika dan segera terspesiasi, grup yang bergerak ke Eropa menjadi Neanderthals, dan yang bergerak ke arah timur menjadi Denisovans.

Sementara spesies manusia modern sendiri bergerak ke luar Afrika pada 70.000-80.000 tahun yang lalu. Mereka juga diperkirakan berinteraksi dan melakukan perkawinan dengan Neanderthals dan Denisovans. Aktivitas perkawinan antara manusia modern dan kedua spesies manusia lainnya juga terbukti dalam penelitian ini.

Dengan disahkannya Denisovans sebagai spesies manusia baru, kini ilmu pengetahuan mengenal 3 jenis manusia yang hidup sezaman dan berinteraksi dengan manusia modern. Mereka adalah Denisovans, Neanderthals, dan Homo floresiensis atau The Hobbit yang ditemukan di Flores, Indonesia, pada tahun 2004 yang lalu.

Fosil yang digunakan dalam penelitian pertama kali ditemukan oleh arkeolog Rusia. Awalnya, tak ada yang menaruh perhatian pada fosil ini. Hingga akhirnya, MPI EVA yang dipimpin oleh Svante Paabo mulai menelitinya. Di samping kebaruan spesies Denisovans, peneliti juga menemukan bahwa Denisovans pernah kawin dengan manusia di Papua Niugini dan Melanesia.

Hah, Gangguan Otak Langka Bikin Orang Hilang Rasa Takut!

Seorang perempuan paruh baya dengan insial SM, asal Amerika Serikat memperlihatkan gejala aneh. Ia gembira saat meraih ular berbisa, tertawa ketika berada di rumah angker. Tak hanya itu, suatu saat setelah melarikan diri dari sergapan dan todongan orang berpisau, ia tak berlari melainkan dengan tenang melenggang pergi.

Sebuah kerusakan otak sangat langka telah mempengaruhi dia dari mengalami rasa takut, demikian menurut sebuah studi yang dipublikasikan di Current Biologi, 16 Desember lalu.

SM memiliki kelainan gen bernama Urbach-Wiethe disease. Pada masa akhir kanak-kanak gangguan ini merusak amydalanya di dua sisi, yakni bagian struktur otak berbentuk sekecil kacang kenari di masing-masing sisi otak. Karena kerusakan tersebut, wanita itu pun tak mengetahui rasa takut.

Penelitan secar kuat menyimpulkan bahwa amigdala memiliki peran terhada proses rasa takut. Banyak kerusakan amigdala terjadi pada hewan. "Namun kami tidak pernah tahu, karena mereka binatang sehingga tak bisa memastikan apakah secara sadar mereka merasakan takut atau tidak," ujar salah satu peneliti, Justin Feinstein, dari Universits Iowa, AS.

Feinsten dan koleganya memelajari masa lalu SM, mencari saat-saat di mana, misal, ia seharusnya merasa takut. SM mengaku ia memang tidak pernah merasa takut, bahkan teranca dengan pisau atau senjata api.

Periset pun membekali SM dengan jurnal elektronik selama tiga bulan untuk merekam kondisi emosionalnya. Luar biasa, takut tak termasuk dalam daftar emosinya. Dalam kuisioner berbaterai, SM menulis ia tak takut berbicara di depan publik, kematian, atau detak jantung terlalu cepat, atau dihakimi negatif dalam masyarakat.

Pada eksperimen berikut, peneliti membawa menunjukkan klip fil menakutkan. Ia tertarik namun tidak takut. Saat dibawa ke sarana hiburan rumah angker terkenal, Waverly Hills Sanatorium Haunted House di Kentucky, pun tak membuat ia gemetar. Alih-alih menjerit ia tertawa dan menepuk mosnter-monster itu di kepala.

Giliran dibawa ke toko hewan eksotik yang dipenuhi reptil kadal dan ular, ia mengaku tak suka hewan-hewan terebut. Namun saat memperhatikan dengan seksama, ia berulang kali meminta untuk menyentuh ular-ular tersebut.

"Apa yang kami simpulkan, bisa jadi amigdala beraksi sangat secara insting di level tidak sadar," ujar Feinstein. "Tanpa area ini, alih-alih kehilangan ketertarikan, anda malah melakukan hal sebaliknya. Ia cenderung mendekati semua hal-hal yang seharusnya dihindari," paparnya.

Kehidupan di Bumi Dimulai Tiga Miliar Tahun Lalu?

Berapa usia bumi? Mungkin  miliaran tahun. Pasalnya, berdasar sebuah penelitian yang dipublikasi di jurnal Nature, kehidupan di muka bumi kemungkinan dimulai tiga miliar tahun lalu, yaitu ketika kehidupan primitif Lmengembangkan cara yang lebih efisien untuk memanfaatkan energi dari sinar matahari.

Kesimpulan ini dibuat oleh para ilmuwan di Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang membangun sebuah  fosil  genomik, yang pada dasarnya merupakan model matematika  1.000 gen kunci yang ada saat ini dan dihitung bagaimana mereka berevolusi dari masa jauh sebelum prasejarah.

Temuan ini kemudian diperluas  antara 3,3 dan 2,8 miliar tahun yang lalu, dan selama ini 27 persen dari seluruh keluarga gen yang ada saat ini muncul menjadi ada. Peneliti Eric Alm dan Lawrence David mengatakan gelombang besar mungkin datang melalui munculnya proses biokimia yang disebut transport elektron modern.

Pada fase ini, tanaman dan beberapa mikroba, mulai memanen energi dari matahari melalui fotosintesis dan oksigen untuk bernapas.

Perubahan besar, yang dijuluki Alm dan  David sebagai perluasan Arkean, terjadi sekitar 500 juta tahun kemudian oleh sebuah fenomena yang dikenal sebagai Great Oxidation Event, yaitu ketika atmosfer bumi menjadi semakin dibanjiri dengan oksigen.

Great Oxidation Event mungkin merupakan pergantian spesies terbesar dalam sejarah bumi, sebagai bergantian kehidupanyaitu mikroba yang menghirup non-oksigen mrnjadi mati dan digantikan oleh yang lebih besar dan memerlukan oksigen untuk hidup.

Gen Penyebab 130 Gangguan Otak Ditemukan

Ilmuwan Prancis mengatakan mereka telah menemukan buket protein yang memainkan peran penting dalam pengembangan lebih dari 130 penyakit otak. Studi mereka juga menyoroti hubungan mengejutkan antara gangguan - termasuk Alzheimer dan Parkinson - dan evolusi perilaku manusia, kata mereka.

"Kami menemukan lebih dari 130 penyakit otak melibatkan PSD (post-synaptic density/sejenis senyawa protein dalam otak) jauh lebih dari yang diharapkan," kata Seth Grant, peneliti dari Wellcome Trust Sanger Institute, Inggris.

Menurutnya, PSD manusia adalah pada tahap pusat berbagai macam penyakit yang mempengaruhi jutaan orang.  Selain gangguan neurodegeneratif, gangguan epilepsies dan  autisme juga disebabkan olehnya.

Otak manusia adalah sebuah labirin dari jutaan sel saraf khusus yang saling terhubung oleh miliaran "jalur" listrik dan kimia yang disebut sinapsis. Dalam sinapsis ini ada  protein yang menggabungkan bersama-sama, membentuk "mesin" molekuler yang dikenal sebagai post-synaptic density, atau PSD. Penelitian dilakukan dengan mengekstrak PSD dari sinapsis pasien menjalani operasi otak.

PSD  diidentifikasi sejauh ini berasal dari kombinasi 1.461 protein, masing-masing dikode oleh gen terpisah. "Kami sekarang memiliki playlist molekul komprehensif 1.000 yang dicurigai," kata Neobels Jeffrey, seorang profesor di Baylor College of Medicine di Texas, mengomentari penelitian ini. Ia berharap temuan ini menghasilkan diagnosis yang lebih bagik bagi gangguan pada otak.

Sebuah Teori tentang Masa Setelah Kepunahan Dinosaurus

Kepunahan dinosaurus seperti yang diyakini ilmuwan Barat menyebabkan mamalia tumbuh 1.000 kali lebih besar dari ukuran semula. Pembengkakan ukuran mamalia ditenggarai mamalia mengambil alih puncak rantai makanan yang semula diduduki dinosaurus. Pola itu menurut asumsi peneliti, terbukti ketika tikus Kastri, mamalia terkecil dunia, menjadi sangat besar. Pola serupa juga terjadi dengan Indricotherium, seekor badak zaman purba yang berukuran 18 meter yang bertalian darah dengan gajah Afrika.

Dr Jessica Theodor, peneliti dari University of Calgary, Kanada mengatakan pada dasarnya, ketika dinosaurus menghilang tiba-tiba muncul mamalia spesialis pemakan tumbuhan. "Tumbuhan sumber makanan yang terbuka. Mamalia mulai mencari dan mengkonsumsinya.  Pola konsumsi yang lebih efisien bagi herbivora ketika mamalia itu besar, "papar dia seperti dipublikasikan journal of science, Senin (28/11).

Hasil analisa fosil mamalia di seluruh dunia menunjukkan setelah dinosaurus menghilang 65 juta tahun yang lalu, ekosistem tidak butuh waktu lama untuk kembali menyesuaikan diri. "Selama 25 juta tahun, sistem diatur ulang secara maksimum bagi binatang-binatang. Salah satunya dalam hal ukuran tubuh, "kata Theodor "Itu sebenarnya dalam jangka waktu yang cukup singkat, secara geologis, evolusi berlangsung sangat cepat. "

Kesimpulan peneliti, ketika mamalia membagi bumi dengan dinosaurus, mereka tumbuh tidak lebih berat dari sekitar 10 kilogram. Selanjutnya,  setelah dinosaurus punah mamalia tumbuh menjadi mahluk berukuran maksimal 17 ton. "Tidak ada yang pernah menunjukkan pola ini benar-benar ada, "kata Dr Theodor. Dia menilai semua pihak berbicara tentang hal ini tetapi tak seorang pun pernah kembali dan melakukan perhitungan matematis. "Kami mengamati secara detail disetiap periode waktu, dan mengatakan OK, untuk kelompok mamalia apa yang terbesar? Dan kemudian kami memperkirakan massa tubuhnya. "

Sebelumnya, para peneliti mengumpulkan data Perissodactyla, mamalia yang memadukan fisik badak dan kuda, Proboscidea, nenek moyang gajah seperti mammoth dan mastodon, Xenarthra, nenek moyang trenggiling, dan pohon sloth serta armadillos. Hasil penelitian mencatat mamalia yang hidup di daerah beriklim dingin tumbuh lebih besar lantaran mereka membutuhkan medium menyimpan panas tubuh.

Cegah Demam Berdarah, Ilmuwan Kembangkan Nyamuk Mandul

Ilmuwan Amerika Serikat mengembangkan teknologi rekayasa genetika untuk membasmi nyamuk penyebab demam berdarah di Kepulauan Cayman. Prevalensi penyakit itu di kepulauan ini dilaporkan sangat tinggi.

Uji coba kali ini adalah yang pertama dilakukan di alam terbuka setelah selama beberapa tahun dikembangkan dalam skala laboratorium dengan sejumlah hitung-hitungan kalkulasi.

"Uji coba lapangan ini akan menjadi sebuah lompatan besar," kata Andrew Read, profesor biologi dan entomologi di Pennsylvania State University. Langkah untuk meniadakan serangka yang menjadi perantara penyakit, katanya, sangat menguntungkan bagi kehidupan.

Penyakit demam berdarah dimulai dari gigitan seekor nyamuk yang terinfeksi, menyebabkan demam, sakit pada persendian, dan berujung pada pecahnya membuluh darah. Sebanyak 2,5 miliar warga dunia berada dalam risiko demam berdarah, menurut data WHO, dan setidaknya 50 juta kasus ditemukan tiap tahun. Hingga saat ini, tak ada vaksin yang mampu mencegahnya. Berbeda dengan malaria, kejadian luar biasa demam berdarah tak bisa diprediksi.

Bagaimana sistem kerja nyamuk anti-demam berdarah ini? Peneliti di Oxitec Limited merekayasa nyamuk jantan steril dengan memanipulasi susunan DNA-nya. Di kepulauan Cayman ini, peneliti melepaskan 3 juta nyamuk jantan untuk menemui betina dari jenis yang sama. Perkawinan keduanya tak akan menghasilkan keturunan. Asal tahu saja, nyamuk pengisap darah hanyalah nyamuk betina yang tengah hamil.

Dalam sepekan, para ilmuwan melepaskan nyamuk secara bertahap sebanyak tiga kali di area seluas 40 acre. Di gugus Kepulauan Karibia ini, demam berdarah memang tengah mewabah. Diharapkan, nyamuk mandul ini akan mampu menekan kasus demam berdarah hingga 80 persen.

Namun langkah ini ditentang sebagian besar aktivis lingkungan. Mereka mengkhawatirkan akan lahir nyamuk mutan -- hasil mutasi gen yang tak dikehendaki -- yang justru akan membahayakan manusia dan lingkungan

Ini Dia Makhluk dengan Testis Terbesar

Taruhlah massa tubuh Anda 65 kilogram. Pasti, ukuran testis Anda tak akan sampai 10 persen alias 6,5 kilogram bukan? Namun, hal yang berbeda diperoleh ilmuwan pada sebuah spesies jangkrik bernama bushcricket (Platycleis affinis). Ukuran testis jangkrik itu mencapai 14 persen dari massa tubuhnya.

"Kami sampai tak percaya dengan ukuran testis ini. Testis itu sepertinya mengisi seluruh bagian perut si jangkrik," kata Karim Vahed, ahli ekologi perilaku dari Britain University of Derby.

Ukuran testis relatif terhadap massa tubuh jangkrik itu dinobatkan sebagai ukuran testis terbesar. Ukuran testis jangkrik itu mengalahkan ukuran testis lalat buah, Drosophila bifurca, yang mencapai 10,6 persen massa tubuhnya.

Tampaknya, ungkapan "size does matter" juga berlaku di dunia jangkrik. Ilmuwan menemukan bahwa ukuran testis yang besar itu digunakan untuk menarik lawan jenis sehingga sang jantan mampu kawin dengan sebanyak mungkin betina.

Sayangnya, testis yang besar itu ternyata hanya mampu memproduksi sperma dalam jumlah yang lebih sedikit. Akibatnya, kesempatan bagi sel telur betina untuk sukses terbuahi menjadi semakin kecil.

"Ukuran testis yang besar itu lebih berkaitan dengan jumlah betina yang bisa dikawini daripada jumlah betina yang berhasil dibuahi," kata Vahed.

Temuan tersebut sedikit menggoyahkan teori sebelumnya. Biasanya, para betina dari banyak spesies, termasuk monyet dan mungkin juga manusia, memilih jantan jantan bertestis besar agar memiliki kesempatan lebih besar untuk dibuahi. Ukuran testis biasanya dipercaya berbanding lurus dengan jumlah sperma yang dihasilkan.

Berkaitan dengan hasil itu, Vahed mengatakan, "Pesan pentingnya adalah kita tak seharusnya mengharapkan aturan yang sama untuk semua spesies sebab hal itu bisa jadi sama, tetapi bisa juga berbeda." Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Biology Letters, Selasa kemarin.

Otak Manusia Modern-Neaderthal Sama Saat Lahir, Berbeda pada Tahun Pertama

Otak manusia Neanderthal dan manusia adalah serupa saat lahir tetapi dikembangkan berbeda pada tahun pertama kehidupannya. Demikian hasil penelitian di Jerman yang diterbitkan pada hari Senin di Amerika Serikat.

Otak bayi manusia yang baru lahir dan Neanderthal, yang menjadi punah sekitar 28 ribu tahun yang lalu, mempunyai ukuran yang sama. Hasil penelitian ini diterbitkan di jurnal Current Biology.

Tetapi setelah kelahiran dan terutama selama tahun pertama kehidupan perbedaan dalam pembentukannya sangat jelas, kata pemimpin penelitian, Phillipp Gunz dari Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi di Jerman. "Ada perbedaan besar dalam cara mereka tumbuh dibandingkan dengan manusia modern dalam satu pertama dan setengah-dan dua tahun," kata Dr Gunz.

Untuk membandingkan dua otak, ilmuwan mengumpulkan otak Neanderthal virtual dengan pemindaian fragmen tengkorak dan membandingkan model komputer pada berbagai tahap pertumbuhan otak bayi manusia. Otak manusia mulai lebih banyak kegiatan di sirkuit saraf di tahun pertama kehidupan, yang mungkin telah membantu homo sapiens awal bertahan dalam proses seleksi alam, penelitian mengatakan.

"Hal yang menarik adalah pada manusia modern, ukuran otak berkorelasi sangat sedikit dengan ukuran kecerdasan," katanya. "Dan Neanderthal, mereka pintar karena mereka memiliki otak besar, tapi kita berpikir bahwa struktur internal pasti berbeda karena mereka tumbuh berbeda, jadi kami tidak berpikir Neanderthal melihat dunia seperti yang kita lakukan."

Neanderthal diyakini sebagai nenek moyang manusia modern terdekat, dan beberapa ilmuwan melihat sebagai spesies yang sama. Pada bulan Mei penelitian tentang analisis genom menyebutkan manusia kemungkinan besar melakukan perkawinan silang dengan Neanderthal, dan bahwa sebanyak empat persen dari genom manusia modern tampaknya dari Neanderthal.

Ular Ini Beranak Tanpa Kawin

Reproduksi aseksual, yaitu reproduksi yang terjadi tanpa disertai pembuahan sel telur oleh sperma, adalah hal yang umum terjadi pada hewan tak bertulang belakang. Tapi, reproduksi cara tersebut bisa sangat mengejutkan bila terjadi di kelompok hewan bertulang belakang atau yang sering disebut vertebrata, walaupun bukan berarti tidak ada.

Baru-baru ini peneliti dikejutkan dengan adanya spesies ular yang mampu bereproduksi secara aseksual lewat proses yang disebut partenogenesis. Spesies tersebut adalah Boa constrictor, atau biasa disebut boa, golongan ular tak berbisa yang memiliki badan relatif besar dan biasa ditemukan di Karibia, Amerika Selatan dan Amerika Tengah.

Temuan itu dimulai ketika Warren Booth, ahli Genetika Populasi dan Evolusi dari Virginia State University, menemukan seekor boa yang melahirkan 22 anakan. Boa yang ditemukan di Boa Store Tennesee ini melahirkan anakan yang seluruhnya betina dan karakteristiknya sama dengan induknya, berwarna karamel.

Setelah melakukan tes DNA pada boa betina yang ditemukan dan pejantan yang ada di tempat tersebut, Booth sangat yakin bahwa boa yang ditemukannya bereproduksi secara partenogenesis. Pasalnya, tak mungkin anakan yang dihasilkan memiliki karakter yang jarang itu jika tidak menuruni gen dari kedua induknya.

Booth menemukan sesuatu yang unik pada partenogenesis boa ini. "Partenogenesis ini dilakukan saat ada pejantan di tempat itu," ujar Booth. Hal tersebut, menurut Booth, berbeda dengan partenogenesis pada umumnya yang dilakukan ketika tak menemukan pasangan kawin. Hingga kini, Booth belum menemukan alasan partenogenesis pada ular tersebut.

Keunikan yang lain adalah materi genetik yang terdapat pada anakan. Pada ular, anakan jantan biasanya akan memiliki kromoson ZZ dan anakan betina memiliki kromosom ZW. Namun, anakan boa ini berbeda sebab kromosom anakannya adalah WW dan berjenis kelamin jantan. "Ini mengejutkan. Selama ini, ilmuwan berpandangan bahwa anakan dengan kromosom WW tidak akan berkembang," jelas Booth.

Booth mengatakan, kemampuan boa dalam melakukan partenogenesis ini bisa berdampak negatif. "Mereka kehilangan jumlah keanekaragaman genetik. Boa itu akan cenderung secara fisik dan fisiologi yang berpengaruh pada kemampuannya untuk survive dan bereproduksi," terang Booth. Perhatian pada cara bereproduksi ini, menurut Booth, sangat penting dalam mengupayakan konservasi ular.

Hasil penelitian Booth dipublikasikan di jurnal online Biology Letters pada tanggal 3 November 2010.

Letusan Gunung Mematikan Sepanjang Masa

Sejarah mencatat bahwa letusan gunung berapi di Indonesia tergolong paling mematikan. Dari 10 daftar teratas, 4 di antaranya dari Indonesia. Korban-korban yang tewas akibat bencana tersebut tergolong yang terbesar dalam sejarah bencana gunung berapi dunia yang terekam. Anda akan menemukan fakta tersebut dengan melihat daftar berikut.

1. Gunung Tambora (1815)
Gunung berapi aktif ini terletak di Pulau Sumbawa. Ledakan terhebatnya terjadi pada tahun 1815, ledakan yang menewaskan 92.000 orang. Saking dahsyatnya letusan Tambora, abu vulkanik yang dilepaskan terlempar hingga lapisan stratosfer udara. selain itu, akibat dari letusan juga masih dirasakan sepanjang tahun 1816, seperti perubahan iklim, tsunami kecil dan hujan abu vulkanik.

2. Gunung Krakatau (1883)
Terletak di Selat sunda yang memissahkan Jawa dan Sumatra. Letusan terbesarnya terjadi pada tanggal 26 dan 27 Agustus 1883. Dikabarkan, suara letusan gunung terdengar hingga Australia dan abu vulkaniknya tersebar hingga wilayah yang sangat jauh. Letusan gunung ini juga mengakibatkan tsunami di wilayah Selat Sunda dan menghancurkan kota-kota di sekitarnya. Sejumlah 36.417 jiwa tewas.

3. Gunung Pelee (1902)
Lokasi gunung ini adalah di sebelah utara Martinique, Perancis. Letusannya terjadi mulai tanggal 25 April hingga 3 Mei 1902. aktivitas vulkanik yang terjadi dalam jangka waktu tersebut menyebabkan kerusakan parah di kota Saint Pierre, menutup jalanan kota dengan abu vulkanik serta menewaskan 30.000 jiwa. Dikabarkan, hanya 2 orang dari penduduk kota yang secara ajaib selamat dari bencana itu.

4. Gunung Ruiz (1985)
Gunung ini berlokasi di Caldas, Colombia. Telah aktif selama ribuan tahun, gunung ini belum pernah meletus sehebat pada tahun 1985. Letusan pada tahun tersebut sangat dahsyat sehingga menelan 25.000 korban jiwa. Letusan itu juga sekaligus sangat mengejutkan sebab sebelumnya gunung itu telah "rehat" selama 150 tahun.

5. Gunung Unzen (1792)
Unzen terletak di kota Shimabara, Pulau Kyushu, Jepang. Beberapa letusan gunung ini pernah tercatat, seperti letusan terakhirnya pada tahun 1991. Letusan terdahsyat terjadi pada tahun 1972 yang mengeluarkan lava dari salah satu puncaknya yang disebut puncak Fugendake. Letusannya juga mengakibatkan gempa dan tsunami. Sebanyak 14.300 orang tewas dalam bencana itu.

6. Gunung Laki (1783)
Gunung ini terletak di Islandia. Letusan terbesarnya terjadi pada tanggal 8 Juni 1783. Sejumlah 14 kilometer kubik lava dikeluarkan oleh gunung tersebut dan membanjiri wilayah sekitarnya. Desa, ternak dan warga yang tinggal di sekitar gunung tersebut menjadi korban. Jumlah korban meninggal dunia mencapai 9350 orang.

7. Gunung Kelud (1919)
Kelud merupakan salah satu gunung teraktif di Jawa Timur. Gunung ini telah beberapa kali meletus di abad 20, di antaranya tahun 1951, 1966 dan 1990.
Letusan yang terhebat terjadi pada tahun 1919. Sebanyak 5110 orang terenggut nyawanya dalam bencana tersebut. Terakhir, gunung ini meletus pada tahun 2007 namun pemerintah berhasil mengevakuasi warga untuk mengungsi menghindari bencana. Letusan juga tidak terlalu besar.

8. Gunung Galunggung (1822)
Galunggung terletak di wilayah Tasikmalaya, Jawa Barat. Letusan terbesarnya adalah pada tahun 1822. Dalam letusan itu, setidaknya 4.011 nyawa manusia melayang.

9. Gunung Vesuvius (1631)
Gunung ini terletak kawasan dekat pesisir Naples, Italia. Salah satu gunung berapi teraktif di Italia ini memberikan dua pemandangan yang kontradiktif, kekaguman akan keindahan lansekapnya sekaligus duka akibat letusannya yang mematikan ribuan jiwa. Letusannya terbesarnya menelan 3500 korban jiwa dan merusak desa-desa di sekitarnya.

10. Gunung Vesuvius (79 AD)
Letusan terbesar Vesuvius ini terjadi pada tanggal 24 agustus 79 AD. Sebanyak 3360 jiwa tewas dalam bencana tersebut. Letusannya diperkirakan berlangsung selama 19 jam dengan volume debu vulkanik yang mencapai 1 kubik mil. Letusan ini juga mengubur dua kota di Italia, Herculaneum dan Pompeii. Sejumlah 1150 tengkorak korban letusan gunung itu ditemukan lewat proses ekskavasi baru-baru ini.

Bunaken Segera Miliki Pusat ListrikTenaga Surya

PT PLN membangun Pusat Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 335 Kilowatt Pick (KWP), di Pulau Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara. "Nilai kontrak pembangunan PLTS tersebut sekitar Rp18,521 miliar," kata General Manager PT PLN Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo (Sulutenggo), Wirabumi Kaluti, pada peletakan batu pertama pembangunan PLTS di Bunaken, Rabu.

Peletakan batu pertama pembangunan PLTS tersebut dilakukan antara lain oleh Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Sinyo Sarundajang, Direktur Energi Primer PT PLN Nur Pamudji.

Wirabumi Kaluti mengatakan, sesuai jadwal direncanakan pembangunan PLTS tersebut akan beroperasi pada Desember 2010. "Diharapkan sebelum Hari Natal masyarakat sudah dapat menikmati PLTS tersebut," katanya.

Dia mengatakan, saat ini guna melayani masyarakat di Pulau Bunaken, PLN menggunakan pembangkit tenaga diesel yang memiliki kapasitas 400 KW dengan beban puncaknya 140 KW. Pembangkit tersebut melayani sekitar 700 pelanggan yang ada di Pulau Bunaken.

Omzet rata-rata dari pelanggan di Bunaken sekitar Rp18 juta per bulan, sementara penggunaan bahan bakar untuk pembangkit tersebut sekitar 14.000 liter per bulan atau sekitar Rp 90 juta. "Pembangunan PLTS tersebut juga untuk mengatasi tingginya BBM itu," katanya.

Direktur Energi Primer PT PLN, Nur Pamudji mengatakan, manajemen PLN sudah bertekad untuk membangun PLTS di pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia.

Pembangunan PLTS di Bunaken merupakan yang pertama, dan selanjutnya akan diakukan pada beberapa pulau di yang ada di Sulut seperti di Kabupaten Sitaro. Kehadiran dari PLTS ini akan menjadikan rakyat di Bunaken dan pulau-pulau lain sejahtera," katanya. Dengan kehadiran PLTS tersebut, pelayanan listrik ke konsumen di Bunaken yang sebelumnya enam jam per hari, akan menjadi satu kali 24 jam.

Sementara Gubernur Sulut Sinyo Sarundajang mengatakan, pemerintah dan PLN merasakan kebutuhan masyarakat akan listrik sehingga membangun PLTS di Bunaken. Jika sebelumnya pelayanan listrik hanya enam jam sehari, dengan kehadiran PLTS tersebut menjadi satu kali 24 jam. "Dengan akan terlayaninya 24 jam tersebut semua usaha dan upaya masyarakat yang memanafaatkan energi listrik sudah dapat menggunakannya," kata Sarundajang.

Sejumlah pejabat juga hadir dalam peletakan pertama itu antara lain, Danlantamal VIII Manado Laksamana Pertama TNI Agus Purwoto, Danlanudsri Manado Letkol Pnb Yudi Mandega dan Walikota Manado Robby Mamuaja.
@republika.co.id

Potongan Tubuh Manusia Dijual Resmi

Potongan tengkorak, kulit, tulang, dan bagian tubuh lainnya kini bisa dibeli secara online. Namun, jangan harap bisa mendapatkannya secara bebas karena spesimen-spesimen semacam itu hanya untuk kepentingan pendidikan dan kesehatan.
Produk yang dijual di situs tersebut adalah karya Gunther von Hagens melalui www.plastination-products.com. Ia adalah seorang anatomis berkewarganegaraan Jerman yang dulu pernah menggelar pameran anatomi tubuh manusia. Sekarang, ia menjual hasil-hasil karyanya itu. Bagian-bagian tubuh manusia yang diizinkan oleh keluarganya untuk digunakan bagi kepentingan umum itu diolah dengan teknik khusus yang disebut plastination temuan sang ahli. Bagian cair diganti dengan plastik sehingga jenis spesimen tertentu tetap terlihat segar.
Harga spesimen itu pastinya mahal. Satu tubuh utuh spesimen dibanderol seharga lebih kurang Rp 926 juta. Bagian bahu ke bawah saja dijual seharga sekitar Rp 530 juta. Sementara itu, kepalanya saja, harganya sekitar Rp 210 juta. Kalau Anda miskin budget, Anda bisa bisa membeli potongan tiap anggota badannya seharga mulai dari Rp 1,6 juta. Semuanya belum termasuk pajak dan ongkos kirim, pastinya juga tanpa diskon.
Bagaimana? Tertarik? Kalau iya, sebelum menggesek kartu kredit, Anda harus menetapkan dulu tujuan Anda membeli bagian tubuh ini. Si empunya karya tak memperbolehkan sembarang orang membelinya. Anda harus mengidentifikasi diri Anda cukup tepercaya untuk membeli produk ini. Seperti mencari pekerjaan saja ya....
Nah, untuk dinilai sesuai syarat, Anda harus menulis proposal disertai beberapa dokumen yang mampu menerangkan alasan Anda membeli produk ini. Apakah ini untuk kepentingan pengajaran atau hanya untuk menakuti anak-istri Anda?
Kalau Anda sudah merasa diri Anda tak cukup dipercaya, jangan khawatir. Anda tetap bisa memiliki produk lain dari karya dengan merek BodyWorld ini. Ada poster dari setiap spesimen dan ada pula spesimen tiruannya.