Showing posts with label P A U D. Show all posts
Showing posts with label P A U D. Show all posts

7 Cara Cerdaskan Otak Anak

Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya tumbuh sehat dan cerdas. Salah satu faktor untuk mewujudkannya adalah pengaruh lingkungan atau pola asuh orang tua.

Sering muncul pertanyaan, apakah mungkin untuk mengasah kecerdasan anak pada tahap awal agar kelak saat ia dewasa menjadi seorang yang jenius? Kabar baiknya adalah Ya! Semua yang dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan otak bayi terletak pada orang tuanya.

Berikut adalah beberapa tips yang dapat Anda mulai untuk mengasah kecerdasan otak si buah hati, terutama pada dua tahun pertama kehidupannya.

* Mulai sejak dini

Mulailah sejak dini bahkan sebelum ia dilahirkan. Caranya dengan memastikan calon ibu memiliki kesehatan yang baik dan cukup gizi. Hindari zat berbahaya seperti alkohol, obat-obatan, rokok, dan merkuri yang diketahui berbahaya bagi perkembangan otak bayi Anda. Penuhi kebutuhan gizi khusus untuk perkembangan otak bayi, seperti asam folat dan minyak ikan. Banyak obat yang tidak dianjurkan selama kehamilan. Jadi konsultasikan dulu dengan dokter Anda sebelum mengambil obat-obatan tertentu.

* Pemberian ASI

ASI mengandung nutrisi tak terhitung yang penting untuk pertumbuhan bayi. Salah satu unsur terpenting itu adalah asam docosahexaenoic (DHA), yang merupakan asam lemak esensial yang baik untuk perkembangan otak. Banyak perusahaan pemasaran makanan telah mencoba untuk meniru bahan ini di laboratorium dan menambahkannya ke makanan bayi. Tapi belum ada yang bisa menyamai DHA alami seperti yang terdapat dalam ASI.

* Membacakan cerita

Meski bayi mungkin belum memahami isi cerita yang Anda bacakan, namun membaca terus-menerus akan membantu bayi untuk mendengar, mengenali kata-kata dan artinya. Proses ini penting dalam membantu cara bicara dan membangun kosa kata bayi.

* Berikan mainan cerdas

Mainan memainkan peran penting dalam perkembangan otak bayi Anda. Kuncinya, memilih mainan dan kegiatan yang tepat harus sesuai dengan tahap perkembangan biologi anak. Pilih mainan sederhana yang tidak membuat bayi frustasi. Belikan mainan buka tutup untuk menggasah imajinasi serta membantu membangun koordinasi antara mata dan tangan.

* Bermain tanda

Ajaklah bayi Anda mempelajari tanda-tanda ketika menginjak usia 4 (empat) bulan. Penelitian menunjukkan bahwa menggunakan bahasa isyarat mengarah ke peningkatan dalam bahasa lisan serta IQ yang lebih tinggi.

* Kenalkan bahasa asing

Pada usia yang tepat, perkenalkan anak Anda untuk mendengar suara dan kosakata dari bahasa asing. Memutar DVD bahasa asing, bisa meningkatkan kosakata anak Anda. Beberapa penelitian menunjukkan pengenalan bahasa asing sebaiknya dimulai setelah anak lancar berbahasa ibu.

* Kontak fisik

Belaian dan sentuhan Anda kepada bayi sangat penting untuk pertumbuhan emosionalnya. Membelai rambut, tungkai dan tubuh juga membantu membuat koneksi neurologis yang penting untuk perkembangan otak. Ini juga akan membantu memperkuat ikatan Anda dengan bayi Anda.(IFA)

Hati-hati Pilih Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini

Selama 7 tahun di Indonesia, Prof. Sandralyn Byrnes mengamati permasalahan pendidikan anak usia dini di Indonesia. Dari penelitian yang ia lakukan, dan menilai berdasarkan pengetahuannya sebagai profesor dan pengalaman sebagai guru anak-anak usia dini, ia menilai bahwa ada beberapa hal yang mengganjal pada pendidikan anak usia dini di Indonesia.

Saat ini, Profesor Sandralyn Byrnes bekerja sebagai kepala sekolah Royal Tots Academy, Kuningan, Jakarta. Dalam seminar kecil bertajuk "What's Wrong with The Early Childhood Education in Indonesia?", yang digelar saat event Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011, Sandralyn mengungkap beberapa hal tentang PAUD di Indonesia. Pertama, saat ini di Indonesia belum ada standar universal mengenai batasan bagi anak-anak yang disepakati bersama. Kedua, bahwa tenaga pengajar di kebanyakan lembaga PAUD masih butuh pendidikan yang terus di-update, dan butuh kerjasama antara lembaga terkait pendidikan anak usia dini untuk menyamaratakan, serta butuh kerjsama dari orangtua murid untuk membantu optimalisasi pendidikan anak.

Selama 7 tahun meriset dan mencari tahu mengenai proses pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes menemukan beberapa hal yang mengganjal. "Pada umumnya, kita semua tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah terjadi proses pembentukan pendidikan yang paling penting. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah. Investasi terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini. Hasil investasi ini akan dilihat di masa depan, selepas mereka dari sekolah. Kalau Anda salah pilih sekolah untuk anak usia dini, akan ada konsekuensi di masa depan anak," terang Byrnes yang mendapatkan titel Australia's and International of The Year ini.

Byrnes mengungkap kembali bahwa saat ini pendidikan anak usia dini di Indonesia belum merata, bahkan sertifikasinya pun tidak menjadi jaminan. "Jika Anda mau pendidikan yang terbaik untuk anak-anak, maka pencarian sekolah pendidikan anak usia dini menjadi pekerjaan rumah terpenting para orangtua. Cari dengan hati-hati, jangan tergesa-gesa," sarannya.

Perlu diketahui lagi, ungkap Byrnes, pendidikan anak usia dini di Indonesia tidak sama, karena tidak disubsidi pemerintah seperti kebanyakan negara lain. "Karena itu, lihatlah uang sekolah untuk anak di usia dini sebagai investasi. Ketahuilah bahwa proses pendidikan anak tidak dimulai dari sekolah dasar, tetapi dari anak usia 18 bulan," ungkap Byrnes

Dari hasil pengamatan Byrnes di Indonesia, ada banyak sekolah anak usia dini yang berembel-embel internasional dan franchise. Hanya segelintir yang mempertahankan kualitasnya, sisanya, tidak menjaga kualitasnya, termasuk tidak menjaga kualitas tenaga pengajarnya.

Sekolah harus menjaga kualitasnya, metodologinya harus di-update, perkembangan keprofesionalitasannya harus dipertahankan, perkembangan pengetahuan seputar pengajaran anak juga harus selalu ditingkatkan, ungkap Byrnes kepada Kompas Female usai seminar kecil tersebut.

Lalu, bagaimana cara memilih sekolah untuk anak usia dini yang terbaik? Byrnes menyarankan:
- Cek kurikulumnya. Ketahui apa saja yang akan diajarkan dan bagaimana cara pengajarannya.
- Bicara dengan gurunya. Lihat apakah ada gairah dari para guru untuk mengajar kepada anak-anaknya. Jika mereka hanya melakukan pekerjaan, percuma. Anak tak akan diperhatikan kebutuhannya, karena kebutuhan setiap anak itu berbeda. Tanyakan pula mengenai cara menghadapi anak, ungkap masalah anak Anda, dan perhatikan jawaban si guru. Guru yang baik seharusnya tahu mengenai cara menghadapi anak-anak dengan berbagai kebutuhan.
- Bicara pula dengan kepala sekolahnya. "Seorang kepala sekolah harus tahu dan paham mengenai pendidikan anak usia dini. Jika Anda tahu orang yang memimpin mengerti tugasnya, Anda akan tenang dan yakin bahwa sekolah si anak berjalan ke arah yang benar," ujar Byrnes.
- Perhatikan pula lokasi belajarnya. Anak-anak masih belum paham benar apa yang aman dan tidak aman baginya. Pastikan lokasinya aman, tidak banyak benda-benda berbahaya bagi anak, serta bersih.
- Kunjungi sekolah di jam belajar. Lihat bagaimana anak-anak berinteraksi dengan sekelilingnya. Apakah ada senyum di sana? Apakah anak-anak di sana terlihat bahagia? "Kalau anak-anak usia dini itu tidak tertawa atau tersenyum, bisa dibilang ada yang tidak beres di sana," ungkap Byrnes. "Menurut saya, anak-anak juga harus bisa mendapat pelajaran di luar kelas. Mereka harus berinteraksi dengan alam untuk melatih motorik mereka," tambahnya.
- Nilai-nilai lain pun sebaiknya diajarkan di usia ini untuk masa depannya, seperti cara bersosialisasi, sikap sopan, dan sifat karakteristik yang baik.
- Perhatikan pula program yang dijalankan. "Seharusnya ada segitiga kerjasama tak terputus antara guru, sekolah, dan orangtua. Ketiganya harus bekerja dengan baik. Harus ada program lain, keterlibatan orangtua-anak di sekolah tak hanya sebatas antar-jemput sekolah."

Satu hal yang dipesankan Byrnes, jangan pernah menyerahkan pemilihan sekolah anak usia dini kepada si anak. "Anak-anak belum mengerti apa yang harus diperhatikan. Saya sering sekali melihat orangtua menanyakan kepada anak, 'Bagaimana sekolahnya? Kamu mau sekolah di mana?' Itu bukan cara yang tepat untuk memilih lembaga pendidikan anak usia dini. Orangtualah yang bertanggung jawab dan bertugas memilih sekolah yang terbaik untuk anak," tutup Byrnes.

Pendidikan Anak Usia Dini Untuk Menghadapi Masa Depan

Pendidikan anak usia dini (PAUD) yang baik dan tepat dibutuhkan anak untuk menghadapi masa depan, begitulah pesan yang disampaikan Profesor Sandralyn Byrnes, Australia's & International Teacher of the Year saat seminar kecil di acara Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011 lalu.

Menurut Byrnes, PAUD akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. "Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini," jelas Byrnes.

Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. "Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa."

Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. "Tentunya cara bermain pun tidak bisa asal, harus yang diarahkan dan ini butuh tenaga yang memiliki kemampuan dan cara mengajarkan yang tepat. Kelas harusnya berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran. Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar," jelas Byrnes.

Contoh, bermain peran sebagai pemadam kebakaran, anak tidak akan mendapat apa-apa jika ia hanya disuruh mengenakan busana dan berlarian membawa selang. Tetapi, guru yang mengerti harus bisa mengajak anak menggunakan otaknya saat si anak berperan sebagai pemadam kebakaran, "Apa yang digunakan oleh pemadam kebakaran, Nak? Bagaimana suara truk pemadam kebakaran yang benar? Apa yang dilakukan pemadam kebakaran? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan ditanyakan untuk memancing daya pikir si anak," contoh Byrnes.

Selama 7 tahun meneliti pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes juga menemukan sebagian orangtua memiliki konsep bahwa anak-anak di usia itu sudah bisa berpikir. "Anak-anak usia dini belum bisa berpikir dengan sempurna seperti orang dewasa. Anak-anak usia tersebut harus dipandu cara berpikir secara besar, cara mencerna, dan berdaya nalar. Sayangnya, beberapa lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia belum mengajarkan mengenai multiple intelligences. Ini kembali ke perkembangan latar belakang ahli didiknya," ungkap Byrnes.

Apa perbedaan anak-anak yang belajar di lembaga pendidikan usia dini berkualitas dengan anak-anak yang tidak belajar? "Di lembaga pendidikan anak usia dini yang bagus, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dan semangat untuk belajar. Sementara, anak yang tidak mendapat pendidikan cukup di usia dini, akan lamban menerima sesuatu," terang Byrnes yang pernah mendapat gelar Woman of the Year dari Vitasoy di Australia. "Anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini yang tepat, akan seperti mobil yang tidak bensinnya tiris. Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadi lamban. Menurut saya, pendidikan anak sudah bisa dimulai sejak ia 18 bulan," tutup Byrnes.
@kompas.com

BERMAIN , BAGIAN DARI BELAJAR

Jangan dikira kegiatan belajar cuma bisa dilakukan di dalam kelas atau membuka-buka buku, kegiatan bermain tenyata juga bermanfaat untuk mengembangkan seluruh kapasitas anak. Bahkan, 70 persen perkembangan otak anak pada tiga tahun pertama usianya dioptimalkan dengan bermain.

Sayangnya, masih saja ada orangtua yang mempersepsikan salah kegiatan bermain. Bagi mereka, bermain adalah kegiatan fisik hiburan sehingga tidak dianggap penting. Berdasarkan sebuah penelitian, waktu bermain anak telah mengalami penurunan dari 40 persen di tahun 1980-an menjadi 25 persen di akhir tahun 1990-an.

Memang tak bisa dipungkiri kenyataan ada orangtua yang lebih suka anaknya belajar atau beristirahat daripada bermain. Hal tersebut dikarenakan tingginya ekspektasi orangtua pada anaknya untuk berprestasi dalam bidang akademik tanpa menyadari adanya tekanan pada anak.

"Saat ini kita memang harus bertempur dengan tren kegiatan anak adalah belajar sejak kecil. Belajar dalam pengertian yang kaku," cetus dra. Mayke STedjasaputra, M.Si, psikolog dan play terapist dalam acara peluncuran Kampenya Bermain ELC yang diadakan oleh Early Learning Center (ELC) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Mayke menegaskan bahwa kegiatan bermain sama pentingnya dengan pendidikan. Terlebih, bermain merupakan hak anak. "Lewat kegiatan bermain, anak belajar. Ada banyak pengalaman baru yang dialami anak, apalagi kemampuan seorang anak barulah praoperasional sehingga mereka perlu melakukan eksplorasi, melihat, meraba, atau menyentuh suatu obyek," paparnya.

Ketika bermain, seorang anak juga akan belajar melalui trial and error sehingga mempunyai pengalaman dunia nyata. "Anak perlu pengalaman langsung dan konkret sebab kapasitas kognitif anak kecil belum siap belajar sesuatu yang abstrak," tambah Mayke.

Dengan bermain, menurut Mayke, ada tiga area perkembangan anak yang akan terpacu, yakni motorik, kognitif, dan sosial. Sisi motorik anak akan terangsang sebab mereka bergerak dan menggunakan seluruh senses dan anggota tubuhnya. "Kecerdasan atau kognitifnya juga terasah sebab dari tidak tahu, anak menjadi tahu," paparnya.

Anak juga akan mengerti perbedaan antara milik sendiri dan milik temannya. "Bermain dalam kelompok juga akan membantu mengembangkan rasa percaya diri anak dan bermanfaat untuk kemampuan sosialnya. Ia juga akan belajar cara mengekspresikan idenya," urai pengajar senior di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Syarat utama dari kegiatan bermain adalah menyenangkan dan aman. Mayke juga menyarankan agar alat permainan dan jenis permainan disesuaikan dengan usia dan keunikan anak. "Apabila anaknya tergolong aktif dan tidak bisa diam, kita bisa memilihkan permainan yang membuatnya terus bergerak, misalnya memasukkan bola ke dalam keranjang sesuai warnanya. Anak jadi bisa tetap berlari-lari, tetapi juga belajar mengenal warna," katanya.

Bermain memang tidak selalu harus menggunakan alat, tetapi pada umumnya anak menyukai mainan. Dalam memilih mainan untuk anak, ada beberapa petunjuk yang bisa dipakai, seperti apakah mainan itu aman digunakan dan apakah mainan tersebut sesuai dengan tahap perkembangan anak. Untuk mengetahuinya, biasanya di dalam kemasan buatan pabrik tertera usia yang cocok untuk permainan tersebut.
@kompas.com